“We travel not to escape life, but for life not to escape us.” – Anonymous Karena sejatinya, bepergian bukan untuk lari dari kehidupan k...

Memahami Kehidupan dari Traveling

By 13.47 , , , , , ,

“We travel not to escape life, but for life not to escape us.”Anonymous
Karena sejatinya, bepergian bukan untuk lari dari kehidupan kita, tapi bagaimana kita menyiapkan diri untuk menghadapinya.

Quote di atas benar sekali bagi saya, karena saya benar merasa pernah mengalami hal tersebut...,
Waktu itu saya masih kuliah semester 3 di Malang. Ketika di kampus ada study eksekursi ke beberapa perusahaan di Jogja dan Surabaya, saya menyempatkan pulang ke rumah di Pasuruan untuk berpamitan pada Ibuk dan Bapak. Ternyata saat saya pulang, di rumah ada hal yang kurang menyenangkan. Ibuk dan bapak saya bersilang pendapat. Saya sebagai anak sangat tidak nyaman, terlebih ibu selalu cerita panjang lebar tentang bapak dan apa yang seringkali membuat mereka demikian. Saya pun sering berusaha "sok bijak" melerai keduanya, padahal saya tahu hal ini pun tidak benar. Karena seringkali setelah saya berusaha melerai, menyampaikan apa yang dikeluhkan ibu pada bapak justru saya yang tidak enak hati dengan bapak.

Keesokan harinya saya kembali ke Malang. Subuh itu saya hanya berpamitan pada ibu dan tidak dengan bapak karena saya masih jengkel dengan beliau. Namun sesungguhnya saya mulai memikirkan banyak hal tentang hubungan saya dan bapak yang menjadi jauh. Sesampainya di Malang, saya langsung mampir kos sebentar dan langsung menuju kampus karena bis untuk study eksekursi sudah siap di depan Gedung Fakultas.
UB-Malang

Singkat cerita, akhirnya saya pun berada dalam perjalanan Malang - Surabaya - Jogja. Saya selalu menikmati perjalanan dengan bis. Jarang sekali saya tidur dalam bis, kecuali benar-benar mengantuk. Kebetulan saat itu teman seperjalanan saya berhalangan ikut study eksekursi sehingga tidak terlalu sering mengobrol. Bagi saya perjalanan selalu mengajarkan akan banyak hal. Melihat pepohonan, tiang-tiang listrik, mobil, sepeda, bahkan orang-orang yang terlewati di sepanjang jalan adalah hal yang membuat candu. Saya bisa memikirkan banyak hal dan menikmati syahdunya perjalanan.

Surabaya

Studi eksekursi ke beberapa perusahaan sebenarnya sangat singkat, dimana kami lebih banyak menghabiskan waktu di perjalanan. Tentu pada akhirnya saya memikirkan hubungan saya dengan bapak. Otak saya mulai mengalur apa saja yang terjadi kemarin dan yang telah terjadi bertahun-tahun lamanya mengenai saya dan bapak. Saya menyadari bahwa sebagai anak, saya sudah pasti meng-copy watak ibu dan bapak saya. Hal itulah yang kemudian membuat saya membanding-bandingkan apa yang sebenarnya terjadi. Saya kemudian mencoba memosisikan diri sebagai bapak. Saya mulai menyadari jika koreksi seseorang sudah memasuki wilayah yang bisa dikatakan "Pemberian Tuhan" seperti sifat/ watak, maka sesungguhnya kita tidak bisa memaksakan kehendak. Karena sifat/ watak murni pemberian Tuhan yang tidak dapat ditolak. Namun memang masih memungkinkan untuk di arahkan pada hal-hal yang lebih baik, dengan menyadari bahwa "Hidayah" adalah murni hak Sang Pencipta.

Saya mulai mencoba memaafkan apa yang telah terjadi sebelum saya berangkat study eksekursi. Karena perjalanan panjang dari Malang ke Jogja saat itu, seperti ajang saya melarikan diri dari masalah. Lepas dari masalah yang membebani pikiran.

Hingga kemudian saya sadar, justru di perjalanan ke Jogja inilah saya banyak mendapatkan insight melalui dialog dengan diri sendiri. Dialog sambil menikmati syahdunya potongan-potongan pemandangan yang disuguhkan Ilahi lewat "Layar" kaca bis. Saya juga mencoba memaafkan diri saya sendiri yang saat itu tidak memahami betapa tidak patut bersikap demikian pada bapak. Saya memaafkan bapak, karena saya tahu apa yang mungkin dilakukan bapak selama ini bahkan diluar kendali beliau karena apa yang dikeluhkan ibuk adalah melulu tentang sifat/ watak bapak. Menyadari bahwa tidak seharusnya saya hanya mendengar argumen ibuk, namun memang seorang bapak memang hampir tidak pernah mengeluhkan tentang istrinya pada anak-anaknya.

Yogyakarta

Hingga kemudian, saya menyimpulkan bahwa bagaimanapun mereka berdua adalah orang tua saya dan sepatutnya saya memperlakukan keduanya dengan cara sebaik mungkin tanpa peduli akan keburukan atau kekurangannya. Karena Alloh pun berfirman dalam Qur'an Surat Luqman ayat 15 :

 وَإِن جَاهَدَاكَ عَلى أَن تُشْرِكَ بِي مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ فَلَا تُطِعْهُمَا وَصَاحِبْهُمَا فِي الدُّنْيَا مَعْرُوفاً -١٥-
“Dan jika keduanya memaksamu untuk mempersekutukan Aku dengan sesuatu yang engkau tidak mempunyai ilmu tentang itu, maka janganlah engkau menaati keduanya, dan perlakukan keduanya di dunia dengan baik.” (Luqman 15)

Bahkan jika mereka mengajak kepada mempersekutukan Allah, kita memang tidak boleh mengikutinya. Namun kita tetap wajib memperlakukan mereka dengan sebaik mungkin tidak peduli apapun itu karena mereka adalah orang tua kita. Apalagi jika mereka sekedar melakukan keburukan yang bahkan mungkin mereka sendiri sama sekali tidak berniat melakukannya. Tidak ada alasan untuk tetap berbuat baik pada keduanya.

Perjalanan pulang dari Jogja kemudian menjadi titik balik saya untuk memperbaiki hubungan saya dengan orang tua terutama bapak. Ketika saya pulang ke rumah di Pasuruan, hal yang pertama saya lakukan adalah meminta maaf pada bapak. Dan saya berjanji pada diri sendiri untuk tidak lagi turut campur dengan urusan ibuk dan bapak agar saya tetap berada dalam kondisi baik dan bersikap adil terhadap keduanya.

Subhanalloh yah, ketika Alloh memberikan banyak insight pada kita melalui tiap perjalanan yang kita lakukan. Dan benar adanya jika seorang manusia itu sangat perlu melakukan "Hijrah" alias berpindah tempat alias "traveling". Agar kita bisa membebaskan pikiran dan mengajaknya untuk lebih fleksibel menghadapi kehidupan.

Tidak terbayangkan jika saya tidak melakukan traveling saat itu, mungkin pemikiran saya terhadap bapak tidak akan berubah. Saya pun menjadikan traveling sebagai hal yang penting dilakukan untuk me-refresh pikiran. Apalagi sekarang ini banyak sekali aplikasi pencarian tiket pesawat, salah satunya Skyscanner yang menawarkan harga termurah dan jujur, bikin jalan-jalan makin irit! Skyscanner membandingkan harga tiket pesawat dengan ratusan situs web yang menjual tiket pesawat lainnya, jadi bisa dipastikan kita mendapatkan tiket pesawat dengan harga termurah. Selain itu, Skyscanner memiliki fitur pencarian tiket pesawat di bulan termurah! Yuk siap-siap packing traveling dengan tiket pesawat murah dari Skyscanner!



sumber gambar:
http://www.vacationbaliindonesia.com
http://www.ALLindonesiaTourism.com
http://www.wikipedia.com

You Might Also Like

4 komentar

  1. Bener banget, mb Isti. Saya pun ngerasain hal yang sama 12 tahun terakhir ini setelah saya hidup berpindah-pindah dari kota ke kota lainnya. Buat saya hidup saya seperti itu sudah seperti travelling

    Yang saya syukuri sekali dari kehidupan saya yang seperti ini adalah saya bisa melihat banyak hal, ketemu orang - orang baru, belajar dari luasnya kehidupan ... yang menjadikan saya seperti sekarang

    BalasHapus
  2. Terima kasih ya sudah ikutan Blog Competition "Aha Moments" Skyscanner Indonesia. Good luck :)

    BalasHapus
  3. Jejak. Terima kasih sudah berpartisipasi. :)

    BalasHapus
  4. Goodluck mbak. Semoga menang... Amin YRA.

    BalasHapus