Seorang ibu, bagaimanapun keadaannya adalah seseorang yang paling memahami putra-putrinya. Bukankah dalam satu masa seorang ibu dan anak pe...

Seorang Ibu Pasti Lebih Memahami Anak-Anaknya

By 10.09 , , ,

Seorang ibu, bagaimanapun keadaannya adalah seseorang yang paling memahami putra-putrinya. Bukankah dalam satu masa seorang ibu dan anak pernah satu tubuh. Dimana sang anak menghirup udara yang dihirup ibunya. Mengecap makanan dan minuman yang dikonsumsi sang ibu. Mendengar degup jantung, suara indah, juga belaian penuh kasih sayang sang ibu. Betapa tak mungkin kita berada di dunia ini sekarang, tanpa adanya seorang ibu yang rela menjadi jalan kelahiran kita (tentu atas izin Alloh dan adanya seorang bapak pula).

Namun, seorang anak seringkali lupa. Lupa bahwa ibu adalah seseorang yang pertama kali berjuang untuknya. Lupa bahwa ridha orang tua terutama ibu, adalah jalan untuk meraih ridha Alloh sebenar-benarnya. Lupa bahwa apa yang dinasehatkan oleh ibu adalah selalu yang terbaik bagi anak-anaknya, dan demikian banyak kebaikan ibunda yang kita lupakan. Ampuni kami duh Gusti, yaa Alloh Pengeran Kulo.

Cerita ini saya dapat dari seseorang yang tidak ingin disebutkan namanya. Dia memiliki kakak perempuan yang sejak usia lulus SD hidup terpisah dengannya dan keluarga karena diminta oleh saudara orang tua. Menurut yang dia ketahui, saudara orang tua (selanjutnya saya sebut Bulik Rina) tersebut berjanji akan menyekolahkan kakaknya (selanjutnya saya sebut Mbak Lana). Namun setelah beberapa tahun ternyata Mbak Lana tidak disekolahkan kecuali hanya mengikuti kursus menjahit dan menjadi pembantu dirumah Bulik Rina sendiri. Ketika berkunjung ke rumah Bulik Rina itulah dia dan orang tuanya baru tahu bahwa Mbak Lana tidak disekolahan. Namun karena memang kondisi ekonomi keluarga berada jauh dibawah Bulik Rina, bapaknya tidak mampu berbuat apa-apa. Terlebih Bulik Rina memiliki argumen sendiri, bahwa Mbak Lana memang lebih pantas jika kursus saja dari pada sekolah.

Waktu berlalu hingga suatu kejadian besar terjadi. Mbak Lana, tiba-tiba diantar pulang oleh Bulik Rina dalam kondisi sakit. Saat ditanya ternyata tiga hari sebelumnya dia tercebur ke dalam sumur dan baru diangkat keluar hampir setelah 3 jam berlalu. Beruntung sekali Mbak Lana masih diperkenankan hidup, meski beberapa bagian tubuhnya banyak yang lecet dan membiru. Padahal biasanya orang yang terjatuh ke dalam sumur banyak yang tidak tertolong dan akhirnya meninggal.

Mbak Lana kemudian bercerita, dia mengungkapkan bahwa saat itu masih shola-shola (ketika di masjid terdengar orang mengaji menjelang subuh) tiba-tiba saja terpeleset ke dalam sumur saat ngangsu (menarik tali timba yang diulurkan ke dalam sumur). Bulik Rina bilang sepertinya Mbak Lana mengantuk hingga kurang awas pada bagian-bagian licin dipinggir sumur. Apapun itu dari sinilah kemudian menjadi sesuatu yang disebut-sebut Mbak Lana dikemudian hari sebagai penyebab dia tidak pernah bisa hamil dan memiliki seorang anak. Dan yang dipersalahkan atas semua ini adalah Emak (sebutan untuk ibunya) karena telah mengizinkan Mbak Lana tinggal di tempat Bulik Rina.

Sepuluh tahun berlalu sejak kejadian itu. Mbak Lana pun telah menikah namun tak jua dikaruniai seprang anak. Tubuh Mbak Lana menjadi semakin kurus dan sakit-sakitan. Hingga ketika Emak hamil putrinya yang ke-8 dan melahirkan (karena saat itu memang belum ada KB). Akhirnya emak merelakan putrinya di asuh oleh Mbak Lana. Tentu saja berarti Mbak Lana mengasuh adiknya sendiri. Alhamdulillah kesehatannya semakin membaik dan hari-hari Mbak Lana terlihat penuh keceriaan dengan adanya seorang bayi dalam gendongannya.

Hari berganti - tahun berlalu hingga bayi tersebut yang diberi nama Menik, semakin tumbuh dan telah berada di Sekolah Menengah Atas. Banyak saudara yang mempertanyakan apakah Mbak Lana sudah atau akan memberi tahu Menik siapa orang tuanya sebenarnya, siapa dirinya sebenarnya, dan seterusnya. Namun Mbak Lana bergeming, ia berdalih Menik tidak perlu tahu siapa orang tuanya yang sebenarnya. Dan barangsiapa yang memberitahu berarti ia telah merampas kebahagiaannya dan menginginkan Mbak Lana kembali larut dalam kesedihan seperti dulu.

Namun kehidupan pasti akan menemukan jalannya. Ketika Menik berusia 25 tahun dan memutuskan untuk menikah, mau tidak mau Mbak Lana harus menerima kenyataan bahwa wali nikah Menik adalah Bapak yang selama ini dipanggilnya kakek. Menik pun tahu dan ternyata Menik tidak sulit menerima kenyataan tersebut. Menik tetap akan menganggap Mbak seperti orang tua meski sebenarnya dia kakak kandungnya. Menik juga mulai belajar berbakti pada orang tuanya sendiri yang selama ini ia anggap sebagai kakek dan neneknya.

Namun Mbak Lana belum bisa menerima semua hal itu dan masih terus saja mencari alasan untuk menjauhkan Menik dari orang tuanya. Mbak Lana sering menghasut, menambah-nambah cerita dan kejadian yang sebenarnya dulu mengapa hingga Menik kemudian diasuh olehnya.

Lantas bagaimana sebenarnya yang terjadi pada Emak. Bagaimana sebenarnya perasaan Emak selama ini? Ternyata Emak selalu memaafkan Mbak Lana. Meski Mbak Lana malah cenderung memisahkannya dengan Menik dan tidak berterima kasih atas ap ayang selama ini diberikan Emak terhadapnya. Emak malah membenarkan bahwa yang patut dipersalahkan atas kemandulan Mbak Lana adalah dirinya karena telah mengizinkan Mbak Lana tinggal bersama Bulik Rina dan mengalami jatuh ke dalam sumur. Emak sealu mencoba mengerti bagaimana perasaan Mbak Lana yang memang tidak pernah bisa mempunyai anak dari rahimnya, sedangkan Emak telah pernah melahirkan banyak anak. Bahkan ketika saudara-saudara yang lain membela Emak dihadapan Mbak Lana, Emak toh masih saja memenangkan Mbak Lana dan memaafkannya.

Well, tidak ada hal lain. Yang terjadi adalah karena Mbak Lana adalah anak Emak. Karena Emaklah yang melahirkan Mbak Lana. Karena Emaklah yang pernah satu tubuh dengan anak-anaknya. Sehingga dialah yang paling tahu atau setidaknya memang yang paling berusaha tahu, berusaha memahami bagaimana anak-anaknya.

Yaa Salaaamm, pelajaran apa lagi? Apa lagi yang harus dibuktikan akan keberadaan kasih sayang seorang ibu. Seorang yang telah rela bertaruh nyawa demi lahirnya kita di muka bumi ini. I Love You Momm. Semoga Alloh senantiasa menyayangi-Mu sebagaimana Engkau menyayangiku sejak masih dalam kandungan hingga kini menjadi pembantah yang paling nyata dihadapan-Mu. Maafkan kami Ibu, maafkan banyak kesalahan kami padamu. Semoga Alloh menempatkan ibu selalu di tempat-Nya yang terbaik. Aamin.



You Might Also Like

2 komentar

  1. Terima kasih atas partisipasi sahabat dalam Kontes Unggulan : Hati Ibu Seluas Samudera
    Segera didaftar
    Salam hangat dari Surabaya

    BalasHapus
  2. Sahabat tercinta,
    Saya mengucapkan terima kasih kepada para sahabat yang telah mengikuti Kontes Unggulan Hati Ibu Seluas Samudera di BlogCamp. Setelah membaca artikel peserta saya bermaksud menerbitkan seluruh artikel peserta menjadi buku.

    Untuk melengkapi naskah buku tersebut saya mohon bantuan sahabat untuk

    1. Mengirimkan profil Anda dalam bentuk narasi satu paragraf saja. Profil dapat dikirim melalui inbox di Facebook saya atau via email.
    2. Memberikan ijin kepada saya untuk mengumpulkan artikel peserta dan menerbitkannya menjadi buku. Cek email dari saya tentang permintaan ijin ini dan silahkan dibalas.
    3. Bergabung dengan Grup Penulis Naskah Buku Hati Ibu Seluas Samudera di Facebook. (https://www.facebook.com/groups/669571076492059/)

    Terima kasih.

    BalasHapus