Sahabat blogger , hayo siapa yang ingin punya Daihatsu-Terios ?, pasti kebanyakan dari sobat pecinta SUV-termasuk saya- ingi...

Petualangan Keindahan dan Persahabatan Negeriku Bersama Terios

By 01.30 , , , , , , , ,


Sahabat blogger, hayo siapa yang ingin punya Daihatsu-Terios?, pasti kebanyakan dari sobat pecinta SUV-termasuk saya- ingin sekali punya Daihatsu-Terios ini. Hampir tiap kali ada terios melintas di depan mata langsung saya berdoa, semoga Alloh ridha segera saya bisa turut memilikinya. Saat jalan-jalan bareng suami pun rasanya saya begitu sering bertemu terios, bahkan ke manapun saya pergi. Berlebihan mungkin, tetapi saya memang jatuh cinta dengan mobil satu ini. Sebagai bentuk kecintaan saya maka mari membahas topik Daihatsu-Terios.

#Apakah sahabat blogger sudah tahu tentang Petualangan Terios 7-Wonders?


Sebelum membahas tentang Daihatsu-Terios, apa sahabat blogger sudah mengetahui adanya Petualangan seru Terios 7-Wonders? Jika belum, boleh dilanjutkan deh baca posting-an ini. Sahabat, petualangan Terios 7-Wonders merupakan Jelajah keindahan alam Indonesia dalam rentang eksplorasi pulau Sumatera hingga Sabang oleh tim Jurnalis beserta Daihatsu, menggunakan 3 unit Daihatsu Terios Hi-Grade Type TX AT dan TX MT. Perjalanan ini adalah sebuah penggambaran brand Terios sebagai "Sahabat Petualang" sejati. Sedangkan Pulau Sumatera yang menjadi target petualangan selain terkenal dengan keindahan alam juga terkenal sebagai penghasil kopi berkualitas yang sejalan dengan tema perjalanan yaitu "Sumatera Coffee Paradise". Tujuh tempat yang akan dikunjungi di antaranya Liwa (Lampung), Lahat, Pagar Alam, Empat Lawang, Curup –Kepahiang, Mandailing Natal dan Takengon. Berikut catatan perjalanan dari petualangan Terios 7-Wonders.

#Cerita Seru Keindahan Alam dan Persahabatan dalam Petualangan Terios 7-Wonders


Terios 7-Wonders (sumber)
Sahabat blogger, ceremony pelepasan perjalanan yang dimulai 10 oktober 2012 ini disaksikan oleh jajaran management dan staf Astra Daihatsu Motor, dengan tim petualang yang terdiri dari 10 orang menggunakan tiga unit Daihatsu Terios TX-AT (2 unit) dan Terios MT (1 unit). Misi utama petualangan Terios 7-Wonders, semata ingin mengguggah mata dunia akan kekayaan alam Indonesia khususnya pulau Sumatera dari Lampung hingga Sabang, dimana terdapat tujuh spot produsen kopi yang akan menjadi bagian dari eksplorasi kekayaan alam dan budaya Indonesia selama perjalanan. Indonesia sebagai produsen kopi Luwak, merupakan salah satu aset Negara yang sudah selayaknya menjadi bagian dari kebesaran Indonesia. Selain itu tim terios 7-wonders juga melakukan aktivitas CSR dengan meberikan bantuan kepada Posyandu binaan serta memberikan bantuan kepada UMKM (usaha mikro kecil dan menengah) diwilayah Bengkulu dan Medan. 

Pelepasan oleh ADM
Setelah dilepas di VLC serta melakukan persiapan, tepat pada pukul 23.00 WIB tim bergegas menuju penyeberangan Merak-Bakauheni. Kondisi laut yang bersahabat membuat durasi penyeberangan ferry ditempuh dalam waktu 3 jam. Kala fajar, tim sampai di ujung pulau Sumatera dan menuju kota Lampung untuk selanjutnya menuju Liwa, Lampung Barat. Perjalanan menuju Liwa yang merupakan wilayah pegunungan ditempuh melalui kawasan Bukit Kemuning, dengan ragam jalan yang didominasi oleh tikungan pendek disertai oleh tanjakan terjal. Liwa yang masuk dalam wilayah Lampung Barat, memiliki hawa yang sejuk khas pegunungan yang merupakan jalur strategis yang menghubungkan tiga wilayah provinsi, Lampung, Bengkulu dan Sumatera Selatan.

D. Ranau dan G. Seminung
Sesampainya di kota Liwa tepat pukul 17.00 WIB tim menuju target pemberhentian selanjutnya yaitu Danau Ranau dengan jarak sekitar 25 km dari kota Liwa. Sesampainya di tepian Danau Ranau yang sudah gelap gulita, tim disambut oleh hawa dingin yang menusuk. Danau Ranau adalah danau terbesar kedua di pulau Sumatera, yang terbentuk akibat gempa bumi yang dahsyat akibat letusan gunung vulkanik. Sebuah sungai besar yang sebelumnya mengalir di kaki gunung vulkanik berubah menjadi jurang. Berbagai jenis tanaman termasuk semak belukar yang secara lokal dikenal sebagai Ranau, tumbuh di tepi danau dan sisa-sisa letusan berubah menjadi Gunung Seminung. Gunung yang terlihat hanya siluetnya dari lokasi kami menginap.

Usai menikmati sarapan pagi di hotel tim bergegas menuju produsen kopi Luwak – Kopi yang cukup terkenal di seluruh dunia. Tak cuma karena rasanya yang nikmat tapi harganya pun lumayan mahal. Harga per kilo berkisar antara Rp 400 ribuan sampai jutaan. Tim ditemani Hidayat atau kerap disapa Sangkut – pemilik kebun kopi seluas 5.000 hektar lebih, dan dijelaskan bagaimana ia memproduksi kopi luwak. Ketika tim menyambangi rumahnya di tepi jalan utama Liwa – Ranau tenyata di belakangnya ia memiliki satu ruangan khusus yang berisi banyak kandang kecil tempat dimana Musang Luwak dipelihara, dimana saat itu hanya ada 5 kandang Musang Luwak (Paradoxurus hermaphroditus) yang terisi.

Musang Luak dalam Kandang
Ada 2 jenis Musang yang dimiliki Sangkut yaitu Musang Bulan dengan ciri khas ujung ekornya berwarna putih (lebih agresif dan susah jinak) dengan bulu berwarna kecoklatan serta Musang Pandan yang bulunya berwarna kehitaman. Menurut Sangkut aroma wangi khas yang dikeluarkan Musang Pandan ternyata menghasilkan kopi yang lebih nikmat dari Musang Bulan. Kopi Musang Pandan memiliki penggemar yang lumayan banyak. Karena persediaan kopi sudah mulai habis maka sebagian besar musang dilepaskan. Saat musim panen (setiap bulan 2 – bulan 6) musang kembali ditangkap dan dimasukkan kandang untuk diberi makan biji kopi yang habis dipetik, dimana musang hanya memakan kopi dengan kondisi terbaik.

Biasanya sesudah dipetik biji kopi disortir, pertama dicari yang warnanya merah rata dan bentuknya bulat dan direndam di ember berisi air. Biji yang terapung disortir sedang yang tenggelam diberikan pada Musang Luwak yang hanya memilih biji kopi yang terbaik untuk makanannya. Biji kopi yang dimakan Luwak, terfermentasi dan keluar jadi kotoran berwujud biji kopi lalu dikumpulkan dan dipisahkan agar tak lagi berbentuk gumpalan lantas dijemur hingga kering. Biji kopi yang sudah bersih dan kering dibawa ke pabrik pengolahan kopi. Hal inilah yang menjadi alasan Kopi Luwak mahal, selain karena proses pembuatannya yang rumit hanya kopi terbaik saja yang dimakan Luwak.

Sebelum tim bergerak menuju lokasi pengolahan biji kopi di daerah Banding Agung, tim disuguhi kopi luwak yang masih panas. Tim ditemui Pak Khodis-salah seorang penyuluh pertanian yang memiliki pabrik pengolahan kopi. Biji kopi yang diolah pak Khodis menggunakan pengolahan cara lama dan cara baru-kopi beraroma- yaitu kopi beraroma ginseng dan kopi berorama pinang. Pertama biji kopi digrading menjadi 3 bagian sesuai ukuran dimana makin besar biji kopi maka makin baik kualitasnya. Kemudian biji kopi dimasukkan ke mesin oven (sangrai) dan dicampur dengan potongan-potongan kecil pinang atau ginseng yang sudah dipilih dan melalui proses pengeringan. Lamanya proses sangrai yaitu 1-2 jam dalam suhu 190 derajat celcius. Proses sangrai ini akan mempengaruhi warna kopi, semakin lama disangrai serbuk kopi makin berwarna kehitaman. Komposisi antara banyak serpihan ginseng atau pinang kering dengan biji kopi yang disangrai sudah melalui beberapa kali ujicoba sehingga mendapatkan rasa yang pas.

Setelah disangrai, biji kopi diangin-anginkan sembari menghilangkan lapisan kulit ari dalam sebuah wadah besar yang sudah dilubangi. Sambil diaduk-aduk lapisan kulit ari akan turun ke bawah. Setelah bersih biji kopi ini langsung digiling dan serbuk kopi yang sudah jadi siap dikemas. Cara menyajikan kopi yang paling pas adalah memastikan air yang akan dicampur dengan kopi benar-benar mendidih. Setelah dituang di cangkir dan diaduk, kopi dibiarkan dulu beberapa saat supaya butiran-butiran kasar kopi yang mengapung turun ke dasar cangkir.

Bersama Bupati Lahat
Karena harus bergerak lagi menuju kota Lahat maka seluruh tim pun bergegas. Total jarak Danau Ranau hingga Lahat 309,4 km. Tim akhirnya merapat di kota Lahat malam hari sekitar pukul 20.00 WIB. Orang nomor satu di Lahat, H Saifudin Aswari Riva'i SE segera menemui tim 7-Wonders begitu tahu tim sedang menyambangi Pasar Lama kota Lahat. Menurut beliau kota Lahat adalah kota tertua di Sumatera dan usianya sudah mencapai 130 tahun. Kota Lahat dirancang oleh Belanda ketika menjajah Indonesia dimana Blue print kota Lahat berupa gambar skets sudah ditemukan, demikian pula dengan berbagai peninggalan Belanda salah satunya Sekolah Dasar Santo Yosef dan berbagai bangunan tua lainnya.

Budaya minum kopi sediri sudah berlangsung sejak dahulu. Di kabupaten Lahat banyak terdapat kebun kopi akan tetapi karena pemasarannya dikuasai tengkulak maka harga beli kopi dari petani kerap dipermainkan, sehingga banyak yang mulai meninggalkan kebun kopi. Oleh sebab itu perjalanan Terios 7Wonders – Sumatera Coffee Paradise diharapkan bisa menggairahkan kembali para petani kopi di Lahat untuk mengolah kebun kopi yang lama ditinggalkan.

Kebun Kopi Pagar Alam
Perjalanan tim 7 Wonders Terios dimulai sesudah santap siang bersama bupati Lahat di hotel Grand Zuri, satu-satunya hotel berbintang yang akan segera diresmikan. Pukul 12.40 WIB tim segera bergerak menuju persinggahan berikutnya di kota Pagar Alam. Letak Pagar Alam yang berada kurang lebih 1.000 m dpl di atas permukaan laut membuat udara lumayan sejuk. Di kanan kiri jalan selain teh dan kopi juga ada persawahan yang lumayan luas. Selain surganya kopi dan teh, karena kesuburan tanahnya Pagar Alam menjadi salah satu lumbung padi di Sumatera Selatan.

Saat sampai di persimpangan jalan menuju kota Pagar Alam, tim memutuskan segera menuju lokasi penginapan di kaki gunung Dempo. Di tengah perjalanan tiba-tiba tim di-stop beberapa anak kecil yang kemudian berkata,”Satu mobil Rp 10 ribu Bang.” Anak-anak ini sepertinya ada yang mengorgansir, karena di dekat portal -ala kadarnya- ada beberapa orang dewasa yang duduk-duduk mengawasi. Ketika kami minta karcis tanda masuk, dengan yakin anak kecil itu menunjukan segepok karcis yang ada tulisan Pemerintah Kota Pagar Alam Retribusi Kawasan Wisata dan Olah Raga. Karcis itu tertera angka Rp 1.500. Hal yang membuat kami agak jengkel adalah uang Rp 30 ribu hanya diganti 5 lembar karcis yang total nilainya hanya Rp 7.500. Kami teringat kejadian yang sama ketika memasuki kawasan Wisata Danau Ranau – Liwa dimana satu mobil dikenai Rp 20.000, tetapi bukti tanda masuk yang diberikan hanya 2 lembar karcis mobil senilai total Rp 10.000 dan juga 3 lembar karcis untuk pengunjung senilai total Rp 6.000.

Usai check in di Villa dan Hotel Gunung Gare, karena hari masih sore (sekitar pukul 15.00 WIB), tim menikmati keindahan alam Pagar Alam sembari berkeliling untuk mecari perkebunan kopi dan tempat pengolahannya karena menurut informasi yang diperoleh Pagar Alam adalah daerah penghasil kopi terbesar di Sumatera. Untuk menemukan kebun kopi di dekat lokasi menginap ternyata tidak sulit, tetapi untuk menemui tempat pengolahan biji kopi baru di dapatkan di salah satu toko souvenir khas Pagar Alam di pusat kota. Sayang sekali mesin gilingnya sedang rusak sehingga proses penggilingan kopi dihentikan.

Kaki G. Dempo
Malam hari di Pagar Alam ditutup dengan makan malam dengan menu ikan bakar dan ikan goreng sembari menikmati seduhan kopi Pagar Alam yang nikmat. Perikanan di Pagar Alam juga lumayan maju karena banyak terdapat kolam ikan yang dibuat masyarakat, dimana air yang bagus menjadi salah satu modal mereka. Hujan turun lumayan deras ketika tim masih beristirahat di hotel, kaki Gunung Dempo. Semestinya saat matahari mulai muncul, dari belakang hotel tim bisa menikmati hamparan teh dan pemandangan Gunung Dempo. Namun karena tertutup kabut maka puncak Gunung Dempo tak terlihat secara utuh. Dari hotel tim meneruskan eksplorasi kopi Pagar Alam sebelum bergerak ke Kabupaten Empat Lawang.

Mesin Pemisah Kulit Kopi
Sembari menunggu kabar dari toko Kirana yang memiliki mesin pengolah kopi, tim mencari petani kopi di Pagar Alam untuk memperoleh beberapa informasi. Ditemani Arkadius atau kerap disapa Diok, tim bertemu kakek Ambyan yang berumur 75 tahun dan masih ada hubungan kekerabatan dengan Diok. Kakek Ambyan ternyata sudah menjadi petani kopi selama 50 tahun. Ketika umurnya masih muda ia sempat merantau ke Palembang sebelum akhirnya kembali ke Pagar Alam dan meneruskan merawat kebun kopi hingga sekarang, di tengah pasang-surutnya harga kopi.

Saat mesin pengolah kopi di Pusat Kota Pagar Alam sudah berfungsi kembali, tim segera bergerak menuju lokasi untuk menyaksikan sendiri seperti apa pengolahan kopi di sana. Ternyata sistem pengolahannya mirip dengan sistem pengolahan kopi di Liwa dan Lahat, perbedaannya hanya terdapat pada cara me-roaster biji kopi. Meski drum untuk me-roaster biji kopi di Pagar Alam sama dengan yang di Lahat, di sini proses pemutarannya sudah menggunakan mesin. Sementara untuk proses penggilingan sama yaitu memakai 2 mesin, pertama biji kopi dihaluskan jadi butiran kasar, kemudian dipindah ke mesin satunya untuk dibuat makin lembut.

Kopi Pagalaram
Seperti halnya proses pengolahan padi sebelum menjadi beras siap dikonsumsi maka pengolahan buah kopi menjadi biji kopi juga menarik perhatian kami. Diok bilang jika kakaknya Nando punya mesin pengolah buah kopi menjadi biji kopi yaitu mesin Engelberg Huller bikinan USA yang berdimensi besar dan digerakkan dengan diesel. Sembari mempraktekkan sistem kerja mesin pengolah buah kopi Engelberg Huller, Diok menerangkan trik untuk mengetahui buah kopi yang dijemur sudah kering atau belum. Caranya dengan mengambil segengam kopi lalu goyang-goyang, jika kopi yang sudah dijemur ini berbunyi berarti biji di dalamnya sudah terpisah dengan dagingnya. Biasanya para petani kopi akan menyimpan buah kopi dalam kondisi masih terbungkus dengan kulit, karena kopi akan lebih awet dan tak mudah menyusut. Jika harga kopi lagi kurang baik para petani biasanya menyimpan buah kopi dalam karung-karung besar. Ketika harga membaik barulah diolah menjadi kopi.

Tak terasa waktu makan siang sudah tiba. Diok menawarkan untuk makan siang di pinggir sungai sembari menikmati aliran sungai yang jernih. Kebetulan lokasi sungai tak jauh dari rumah Nando. Sesampainya di lokasi, Nando -kakak Diok- sudah menunggu dan mengajak makan siang di saung bambu. Suasana makan siang di pinggir sungai berbatu yang airnya jernih sungguh terasa berbeda. Usai makan, tim beristirahat sejenak sambil menyeruput kopi panas Pagar Alam. Nando bercerita jika selain memiliki usaha pemisah buah kopi dan padi kini ia juga mengolah batu sungai menjadi batu split di lokasi lahan miliknya seluas 8 hektar lebih.

Pengolahan Kopi di Empat Lawang
Seusai santap siang di pinggir sungai, tim 7-Wonders langsung bergerak menuju Kabupaten Empat Lawang (Tebing Tinggi). Daerah hasil pemekaran Kabupaten Lahat ini memiliki ikon Biji Kopi. “Kopi adalah salah satu komoditas andalan kabupaten Empat Lawang”, kata H.Budi Antoni Aljufri – Bupati Empat Lawang. Jalanan ketika keluar dari kota Pagar Alam menuju Tebing Tinggi via desa Jarai – Pendopo sebenarnya cukup baik meski tidak begitu lebar dan berkelok-kelok. Kondisi jalanan sendiri relatif sepi dengan pemandangan hutan di kanan dan kirinya. Tim sampai di Puri Emass sekitar pukul 15.30 WIB, dan sudah ditunggu oleh dua orang staff bupati Empat Lawang Sara Rudianto – Kepala Dinas Perkebunan dan Joko. Tak jauh dari rumah dinas bupati, kami diajak bertemu Pak Anang Zairi – seorang pemilik pengolahan kopi. Menurutnya, kopi di Empat Lawang berbeda karena merupakan percampuran Arabica dan Robusta,  menghasikan kopi yang wujud aslinya Robusta tapi aromanya Arabica. Di rumah Anang, sistem pengolahan kopi sudah tertata dengan rapi, dimana selain kopi ia juga memproduksi madu hutan, beberapa panganan ringan dari pisang dan singkong.

Kopi Emass
Pak Sara Rudianto kembali menyambangi tim di Puri Emass sekitar pukul 08.000 WIB untuk menemani tim 7-Wonders menguak lebih dalam lagi tentang perkopian yang dimiliki oleh Empat Lawang. Kabupaten yang satu-satunya memakai biji kopi sebagai maskot daerahnya ini memang mempunyai tanaman kopi yang lumayan produktif. Seperti yang diungkapkan oleh Anang, hampir semua tempat di daerah Empat Lawang memiliki kebun kopi yang hasilnya dapat diandalkan. Malah sebagian besar hasil panennya langsung mengalir keluar dari daerah Empat Lawang dan diberi cap sebagai kopi daerah lain.

Selain dijadikan maskot, biji kopi ternyata dipakai juga sebagai motif seragam batik yang dipakai seluruh pegawai di pemerintahan setiap Kamis. Kopi yang dalam bahasa daerah Palembang disebut Kawo ini benar-benar dimanfaatkan semaksimal mungkin. Tim Penggerak PKK yang dipimpin istri bupati juga serius membantu pemanfaatan kopi, salah satunya adalah membina perajin souvenir khas Empat Lawang dengan memakai bahan dari kayu kopi hasil peremajaan. Tak hanya batang kayu kopi yang dijadikan benda seni, daun kopi pun bisa dijadikan kerajinan unik seperti tempat tissue dan sebagainya, bahkan beberapa masyarakat yang memang menekuni dunia kerajinan dikirim ke Jogja untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagaimana meningkatkan nilai tambah tanaman kopi.

Setelah menikmati berbagai kerajinan di showroom kawo yang berada persis di depan Puri Emass ditemani 2 orang staff Rudianto tim 7-Wonders segera bergerak lagi menuju kebon kopi di daerah Talang Padang. Tim bertemu dengan Makmur salah satu petani kopi di daerah ini yang menjelaskan bahwa sebenarnya musim panen kopi telah usai (biasanya kopi dipanen di bulan 2 hingga 6), tetapi usai panen masih ada panen susulan dengan jumlah yang tidak banyak. Seperti yang pernah diungkapkan oleh Aswari- Bupati Lahat ketika kami mampir di daerahnya sebelum tim 7-Wonders sampai di Empat Lawang bahwa petani kopi sangat tergantung dari tengkulak, demikianlah yang terjadi di lapangan. Hasil panen kebon kopi Makmur sudah pasti ada yang menampung tapi harganya juga tak stabil, dan yang menikmati hasil lebih banyak adalah para tengkulak. Semestinya keberpihakan kepada petani kopi jadi perhatian semua kalangan termasuk pemerintah, supaya petani kopi bisa menikmati hasil jerih payahnya.

Petualangan seru bersama 3 Daihatsu Terios pun dilanjutkan Dari Desa Talang Padang menuju ke Curup – salah satu sentra penghasil kopi di daerah Bengkulu melalui Kepahiang. Jalanan berkelok-kelok naik dan turun, relatif sepi namun sempit dengan pemandangan alamnya yang sungguh menyejukkan mata. Selain kopi, tumbuhan yang paling sering ditemukan di kanan-kiri jalan adalah pohon durian. Tanjakan dan kelok-kelokan ini ternyata terus mewarnai sepanjang jalan sebelum tim 7-Wonders memasuki kota Bengkulu. Tim akhirnya tiba di Bengkulu sekitar pukul 18.30 WIB.

CSR di Bengkulu
Ketika sampai di Bengkulu tim 7-Wonders memutuskan untuk beristarahat agak lama karena rute Bengkulu – Bukittinggi melalui Padang selanjutnya akan ditempuh secara langsung. Di Bengkulu, tim juga mengunjungi acara CSR berupa penyerahan bantuan untuk Posyandu dan UKM. Lima Posyandu yang menerima bantuan adalah Anak Bangsa, Mekar Sari, Damai, Flamboyan dan Candra. Sedangkan UMKM yang mendapat bantuan adalah Tiara, Ikan Pais “Ibu Jumi”, Jepara Maju, Keripik Ikan EZ dan Kopi Bubuk Mandela. Acara CSR dipusatkan di main dealer Daihatsu jalan S Parman yang dihadiri oleh sejumlah pejabat Pemkot Bengkulu. Usai mengikuti acara CSR tim 7-Wonders santap siang di de Kabayan dengan menu masakan Sunda.

Pantai Panjang

Selesai santap siang turun hujan lebat hingga Pukul 16.00 WIB dan begitu hujan selesai maka sesi pengambilan gambar segera dimulai, sembari menikmati keindahan pantai Panjang yang letaknya persis di depan hotel. Kemudian tim menuju obyek wisata sejarah Paling dekat dari lokasi tim mengambil gambar yaitu rumah pribadi Ibu Fatmawati Soekarno Putri yang terletak di jalan Fatmawati Bengkulu. Rumah bersejarah yang masuk dalam aset Pengprov Bengkulu tersebut cukup terawat. Setela itu perjalanan dilanjutkan ke rumah pengasingan Bung Karno sekitar tahun 1940-an dan letak rumah ini tak jauh dari rumah ibu Fatmawati.




Jam Gadang
Keesokan harinya tim melalui rute pantai barat yang terasa berbeda dimana jika sebelumnya didominasi pegunungan dan hutan, kini lebih banyak menikmati pemandangan pantai. Selain cuaca panas berkisar 35 derajat Celcius yang lumayan menyengat, terdapat tikungan-tikungan yang juga lebih tajam. Sementara karakter tanjakan dan turunannya kurang lebih sama dengan jalur sebelumnya. Tim keluar dari hotel di Bengkulu sekitar pukul 7 pagi kurang dan baru merapat di tugu Jam Gadang- Bukittinggi tepat pukul 12 malam. Terjadinya gempa bumi beberapa waktu yang lalu membuat beberapa ruas jalan mengalami kerusakan bahkan ada yang longsor sehingga terpaksa dibuat jalur baru. Jalan yang tak begitu lebar serta adanya beberapa truk besar dari perusahaan kelapa sawit maupun batu bara kerap berpapasan membuat perjalanan sedikit terlambat.

Pantai Barat
Sebagai catatan jika ingin menikmati rute pantai barat Sumatera hal yang harus diperhatikan adalah minimnya jumlah POM Bensin, sehingga perlu membawa jerigen cadangan bensin minimal 10 liter. Selain itu sebaiknya dihindari perjalanan di malam hari karena kondisi jalanan yang lumayan ekstrem.

Usai semalaman beristirahat, tujuan tim selanjutnya adalah mengeksplor kopi yang dihasilkan dari desa di Mandailing Natal. Perjalanan dari lokasi tim menginap di dekat Danau Maninjau dilakukan dengan Waktu tempuh Bengkulu – Bukittinggi selama 18 jam. Kota Bukittinggi yang juga disebut kota Seribu Ngarai memiliki keindahan alam yang mempesona salah satunya Ngarai Maninjau. Untuk melihat pengolahan dan perkebunan kopi rakyat di Mandailing (Mandheling) Natal, ada sahabat- Lelo Andhika Syahna yang sudah menunggu di daerah Pasaman.

Kopi Mandailing
Begitu sampai Pasaman, tim langsung bergerak menuju Desa Sambang Banyak Jae Ulu Pungud. Menurut Lelo, di sana banyak terdapat kebun kopi berumur puluhan tahun. Jika menilik sejarah, kopi Arabica yang pertama kali masuk Indonesia pada 1699 dibawa oleh Belanda ditanam di daerah Mandheling Natal, dan desa yang menjadi pusat kopi Arabica pertama kali di tanam adalah Desa Pakantan. Ternyata dari pertigaan jalan raya Pasaman, tim harus menempuh perjalanan kurang lebih 25 Km dan masuk kembali di arah pedalaman yang meski beraspal namun jalanan lumayan sempit.

Desa yang berada di lembah antara dua bukit ini seperti desa yang hilang. Jika jalanan yang dilalui bukan aspal tapi jalan tanah pasti akan terasa sekali suasana jauh dari peradaban. Apalagi semakin masuk ke dalam menuju Desa Ulu Pungud sinyal handphone (HP) langsung hilang. Menurut Makmur dan Fuad -dua penduduk Desa Sambang Banyak Jae Ulu Pungud- yang menemani tim mengeksplorasi kopi Mandheling, televisi adalah satu-satunya hiburan yang digemari warga akan tetapi warga harus menggunakan antena parabola untuk menonton. Kemudian mereka bercerita bahwa kopi yang ada di desanya sudah berusia puluhan tahun bahkan ratusan tahun dimana pohon kopi tersebut diwariskan secara turun temurun. Ada 2 jenis kopi yaitu kopi jenis Robusta dan jenis Arabica yang berjumlah lebih banyak, dimana pohon kopi Arabica memiliki daun lebih kecil dengan penampang yang tinggi.

Selanjutnya tim menuju Tarutung dan kondisi jalanan sepanjang Mandailing Natal – Tarutung tak stabil, sebagian mulus sebagian lagi rusak parah karena perbaikan jalan yang belum juga selesai meski jembatan yang putus karena banjir bandang sudah diperbaiki. Kerusakan jalan ini membuat perjalanan agak terhambat. Di Tarutung tim singgah sembari memulihkan stamina untuk segera meluncur ke Medan. Tim memasuki Kota Medan pukul 22.00 WIB.

CSR di Medan
Perjalanan panjang 7-Wonders sudah mencapai separuh lebih dari rute yang direncanakan ketika tim sudah berada di Medan. Selain untuk memulihkan stamina, selama 2 malam di Medan tim juga melakukan kegiatan Corporate Social Responsibility (CSR) yang disinergikan dengan program CSR PT. Astra Daihatsu Motor (ADM). Untuk di Medan acara simbolis penyerahan bantuan kepada 2 Posyandu dan 5 UMKM dilakukan di dealer Daihatsu, Jalan Sisingamangaraja No. 170, Medan. Kedua Posyandu Binaan yaitu Posyandu Kenanga 1 dan Mawar XII. Sedangkan UMKM yang mendapat bantuan adalah Wolken (pembuat bantal+guling), Keripik Pisang Bu Nur, Keripik Cap Merak, Berkat Rahmat dan juga Sirup Markisa Brastagi Bee. Total bantuan program ini nilainya mencapai lebih dari Rp 200 juta.

Pengecekan Kendaraan
Usai kegiatan tim 7 Wonders langsung ke lokasi Posyandu Kenanga 1 yang berada di Kantor Kelurahan Pasar Merah Barat, Kecamatan Medan Kota. Tim ditemani Edy Susanto – Kepala Cabang PT Astra Internasional Daihatsu Medan (AIDM), Akmal Sukmajaya - Corporate IT Div. Head ADM dan juga Asjoni - CSR Dept. Head ADM bersama tim CSR ADM. Kemudian tim melakukan pengecekan dan perbaikan di main dealer Daihatsu Medan pada 3 Terios yang menemani perjalanan 7-Wonders. Setelah melewati berbagai rute lumayan berat dan adanya sedikit kendala yang dialami salah satu Terios, mengembalikan kondisi mobil jadi prima lagi cukup penting, mengingat rute berikutnya di provinsi Aceh juga penuh tantangan.



Perjalanan tim 7-Wonders akan memasuki etape terakhir yaitu Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam. Seusai check out dari Hotel Santika Medan – tepat pukul 13.00 WIB, tiga Terios pun segera bergerak menuju provinsi Serambi Mekkah. Perjalanan kali ini agak berbeda karena ada tambahan anggota tim baru yaitu Rokky Irvayandi dari PT Astra Daihatsu Motor (ADM) Head Office, Jakarta. Jika sebelumnya Terios berisi 10 orang kali ini menjadi 11 orang.

Warung Kopi
Rute perjalanan dari Medan menuju Langsa cukup lancar. Kondisi jalan raya bagus dan cenderung flat, meski di beberapa ruas jalan ada perbaikan dan pelebaran. Kondisi aspal jalan memasuki provinsi Aceh lumayan mulus dan tim memasuki kota Sabang sekitar pukul 18.30 WIB. Untuk mendapatkan suasana yang khas Aceh, tim menyempatkan minum kopi dan makan malam di dekat alun-alun Langsa. Ketika menikmati hidangan sate matang dan martabak Aceh, dr.Marlunglung Purba-Dokter muda asal Medan yang bertugas di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Langsa turut bergabung dan membantu personel tim yang sakit batuk. Usai makan malam, tim segera beristirahat karena jarak Langsa - Takengon lumayan jauh (334,6 km) dan harus berangkat pagi-pagi.

Kota Takengon adalah persinggahan terakhir tim 7-Wonders dalam mengeksplorasi 7 tempat penghasil kopi di Pulau Sumatera. Sepanjang perjalanan sudah ada 6 tempat yang tim kunjungi yaitu Liwa (Lampung), Lahat, Pagar Alam, Empat Lawang, Curup –Kepahiang, Mandailing Natal dan sekarang giliran Takengon. tim berangkat dari Langsa pukul 7 pagi. Sekitar pukul 11 siang tim sampai di Bireuen, kota yang dulu kerap jadi ajang pertempuran antara GAM dengan aparat keamanan Indonesia. Suasana kota Bireuen sekarang jauh berbeda dengan yang dulu, dimana sekarang suasananya aman dan damai.

Rute Bireuen – Takengon lebih banyak melewati perbukitan yang jauh dari pemukiman. Di daerah Cot Panglima pemandangannya cukup indah meski proyek pengerjaan jalan masih belum selesai. Jalan tersebut mengikis sebagian bukit yang dibuat lebih lebar karena sering terjadi longsor. Menjelang masuk Takengon, komunitas jip dari Gayo sudah menunggu untuk mengawal di trek bukit Oregon, trek light off-road dengan pemandangan yang indah. Sampai di ujung terakhir trek Oregon tim menyempatkan diri menikmati indahnya pemandangan kota Takengon dan Danau Laut Tawar. Menyeruput secangkir kopi panas bersama dengan penyuka 4x4 sungguh menjadi pengalaman yang tak bisa dilupakan, dimana lewat secangkir kopi inilah -meski baru saja bertemu- pertemanan dengan komunitas jip di Gayo terasa lebih hangat.

Petani Kopi Gayo

Tim memasuki kota Takengon dengan berkonvoi bersamaan saat azan maghrib berkumandang. Bambang, salah satu penggemar 4x4 dari Takengon yang ternyata juga pengusaha kopi Gayo, mengajak mampir ke gudang dan laboratorium kopi miliknya. Usaha yang dijalankan secara kekeluargaan dan berlangsung secara turun menurun ini ternyata berkembang pesat. Kopi Gayo merupakan kopi jenis Arabica dengan citarasa yang khas. Bahkan kopi yang diproduksi Bambang sudah merambah ke Eropa Timur dan Amerika. Selain kopi Gayo Blendeed ada juga kopi dari Luwak liar yang sekarang mulai ramai digemari banyak orang.



Cara menikmati kopi luwak ternyata butuh trik khusus yaitu Air yang digunakan harus benar-benar mendidih. Dibutuhkan alat yang bernama ekspresso (berguna untuk menyaring kopi sekaligus menurunkan kadar keasamannya) sehingga kopi tak terasa tajam di perut ketika diminum. Tim kemudian menikmati makan malam dengan menu ikan asam pedas khas Takengon dimana Ikan diambil dari Danau Laut Tawar di belakang penginapan.

Pengeringan Biji Kopi Takengon
Usai beristirahat di penginapan pinggir Danau Laut Tawar, tim siap kembali mengulik dunia perkopian di kota Takengon. Menurut Bambang, masyarakat di kota ini tak bisa lepas dari kebun kopi. Rasanya hampir semua penduduk di kota ini memiliki kebun kopi dan minimal satu keluarga punya setengah hektar luasnya. Di setiap pekarangan rumah penduduk hampir tak ada yang dibiarkan terbuka tanpa ditanami kopi. Letaknya yang kurang lebih 1.300 m dpl sangat cocok untuk menanam kopi jenis Arabica. Letak geografis dalam rangkaian bukit barisan mempunyai kelebihan tersendiri yaitu tanah yang subur dan curah hujan yang tinggi. Oleh sebab itu selain di Mandailing Natal, masyarakat Gayo – demikian penduduk Takengon biasa disebut, menjadi salah satu bagian sejarah penting dalam perkembangan kopi Arabica di Sumatera yang mendunia.

Sesuai janji Bambang ketika menikmati masakan Ikan Asem Njing (asem pedes), maka tim diajak melihat langsung salah satu kebun kopi peninggalan Belanda di desa Blang Gele. Meski hanya seluas 15 hektar, kualitas biji kopi di desa Blang Gele termasuk nomer satu dengan Biji yang besar dan aroma yang khas. Letak kebun tak jauh dari PT Ketiara (perusahaan kopi milik ayah dan ibu Bambang). Untuk melestarikan kopi jenis ini, pengembangbiakan pun dilakukan. Hanya saja menurut Bambang ketika ditanam di Takengon, kopi Arabica ini meski baru berumur setahun buah yang dihasilkan sangat lebat sedangkan belum tentu jika di tanam di daerah lain.

Sebelum meninggalkan kota Takengon menuju Banda Aceh, tim 7-Wonders juga menyempatkan diri menikmati makan siang menu khas Gayo dan belanja souvenir. Rute perjalanan tim sama ketika datang dari Bireun, bedanya ketika sampai di Bireun tim langsung berbelok ke kiri dan mengambil arah ke Banda Aceh. Jalanan ke Banda Aceh lumayan lebar dan mulus.

Rangkaian perjalanan panjang tim Terios 7-Wonders sepanjang 3.657 km selama 15 hari berakhir di tugu “Nol” Kilometer tepat pukul 12.48 WIB tanggal 24 oktober 2012. Setelah beristirahat semalam di Banda Aceh, pagi-pagi tim sudah bergegas menuju pelabuhan ferry Ulee Lheue karena kebetulan perjalanan ini mendekati hari raya Idul Adha atau Lebaran Haji, dimana banyak penduduk Aceh yang pulang kampung. Oleh karena itu, meski jadwal kapal ke Sabang baru pukul 11.00 WIB siang, tim harus antri di lokasi pelabuhan minimal dari jam 7 pagi. Selain itu kapasitas angkut kapal ferry memang tidaklah besar, maksimal 30 kendaraan. Saat di lokasi, ternyata kapal (ferry) berangkat pukul 09.00 WIB.

Keluar dari Pelabuhan Balohan
Tim sampai di pelabuhan ferry Balohan – Sabang sekitar pukul 11 siang dan segera menuju kota Sabang. Sahabat Ari Poenbit dari komunitas off-road pulau Sabang dan juga dokter Togu akan mengawal tim menuju tugu “Nol” kilometer. Tanpa menunggu waktu lama 3 Terios langsung dibawa menuju tujuan akhir perjalanan panjang ini. Akhirnya tiga unit Daihatsu Terios (2 matik dan 1 manual) berhasil mencapai titik “Nol” kilometer di ujung pulau Weh, Provinsi Aceh Nanggroe Darussalam pada pukul 12.48 WIB. Perjalanan yang penuh pengalaman menarik selama 15 hari yang dimulai dari VLC Sunter Jakarta dengan total jarak 3.657 km berakhir sudah.

Di Sabang, rombongan Terios 7-Wonders ditunggu oleh para petinggi PT Astra Daihatsu Motor (ADM) antara lain, Amelia Tjandra, Rio Sanggau, Elvina Afny, Guntur Mulja dan beberapa wartawan nasional dari Jakarta yang diajak khusus menyaksikan peristiwa bersejarah ini. Anggota tim 7-Wonders yang terdiri dari Tunggul Birawa (leader), Insuhendang, Bimo S Soeryadi, Ismail Ashland, Aseri, Toni, Arizona Sudiro, Endi Supriatna, Enuh Witarsa, David Setyawan (ADM), Rokky Irvayandi (ADM) mendapat ucapan selamat dari yang hadir di tugu “Nol” Kilometer.

Penyerahan Plakat
Seremoni singkat menandai berakhirnya ekspedisi ini dilakukan di Tugu “Nol” Kilometer. Plakat Terios 7-Wonders yang dibawa tim diserahkan oleh Tunggul Birawa selaku komandan tim kepada Amelia Tjandra untuk Selanjutnya diserahkan kepada dr. Togu yang mewakili pemda Sabang. Plakat ini akan ditanam di lokasi yang memang sudah disediakan di sekitar lokasi tugu Nol Kilometer. Setelah berfoto-foto sejenak, rombongan segera menuju ke Anoi Itam Resort Sabang untuk makan siang. Usai makan siang tim bergegas ke pelabuhan ferry Baloha untuk segera naik kapal cepat Pulau Rondo. Kapal ini merupakan kapal terakhir dari Sabang menuju Banda Aceh.

Kapal segera berangkat ketika jam menunjukan pukul 16.00 WIB. Sementara 3 Terios dibawa ke Banda Aceh keesokan harinya pukul 08.00 WIB dengan kapal ferry. Seluruh tim kecuali Insuhendang yang tinggal di Pulau Sabang untuk mengawal 3 Terios, sampai di Banda Aceh dengan perasaan lega. Tujuan pertama yaitu menikmati kopi Ulee Kareeng kemudian mengunjungi Masjid Raya Aceh dan juga menikmati kuliner Mie Aceh yang disiapkan oleh sahabat daihatsu Alex HM yang juga ketua organda Banda Aceh.

Jadwal kepulangan tim Terios 7-Wonders berdekatan dengan hari raya Idul Adha dimana sebelum pulang dengan mengenakan pesawat udara pada sore hari, PT ADM dan juga tim Terios 7-Wonders menyerahkan 3 ekor sapi untuk dijadikan hewan kurban. “Ini salah satu bentuk ucapan rasa syukur kami karena program Terios 7-Wonders Sumatera Coffee Paradise sudah berhasil dilaksanakan tanpa ada hambatan berarti. 3 ekor sapi ini melambangkan 3 Terios yang kami bawa dari Jakarta hingga Aceh,” komentar Rio Sanggau salah satu petinggi ADM ketika menyerahkan 3 ekor sapi pada panitia kurban di Masjid Raya – Banda Aceh.

Penyerahan Hewan Kurban
Saat penyerahan hewan kurban, kapal dari Sabang yang membawa 3 Terios sudah merapat. Tiga orang anggota tim pun menyusul ke pelabuhan Ulee Lheue untuk membawa kembali kendaraan yang menemani tim selama ini. Sambil memanfaatkan waktu, sebelum menuju ke Bandara Sultan Iskandar Muda untuk pulang ke Jakarta tim Terios 7-Wonders menyempatkan diri belanja sedikit souvenir khas Aceh di lokasi sekitar mesjid dan dilanjutkan mengunjungi museum PLTD Kapal Apung. Museum yang merupakan salah satu bukti kedahsyatan bencana Tsunami. Kapal pembangkit listrik yang tadinya berada beberapa puluh kilometer di laut tersebut tiba-tiba saja berada di tengah pemukiman penduduk di kota Banda Aceh, seolah-olah kapal dengan bobot beberapa puluh ton ini dijatuhkan dari langit dan beberapa rumah hancur tertimpa kapal. Kini Lokasi di sekitar kapal dijadikan obyek wisata. Tim menikmati makan siang dengan menu khas Aceh Ayam Tangkap menjelang sampai di Bandara Sultan Iskandar Muda. Akhirnya pukul 16.35 WIB seluruh anggota tim Terios 7-Wonders terbang kembali ke Jakarta. 

#Bagaimana Daihatsu-Terios mampu melakukan Petualangan Terios 7-Wonders

Selama perjalanan dalam petualangan Terios 7-Wonders, SUV 7-Seater Terios teruji ketangguhannya di medan yang menyuguhkan karakter jalan yang bervariasi. Namun berkat ground clereance yang tinggi disertai dengan performa mesin 3SZ-VE DOHC VVT-I 1.495cc, kenyamanan berkendarapun dapat diraih. Begitu pula dengan kenyamanan didalam kabin. Steering wheels with audio switch, menjadi salah satu fitur penunjang kenyamanan selama berkendara. 

Sahabat blogger, Daihatsu-terios ini merupakan mini SUV yang luar biasa. SUV adalah kependekan dari Sport Utility Vehicle, dimana sesuai karakternya mobil ini cocok bagi yang suka berpetualang atau berburu. Bodinya yang tinggi, melindungi pengemudi dari berbagai ancaman dan rintangan. Arti kata Terios sendiri berasal dari Bahasa Yunani yaitu "your dream come true". Luar Biasa! Saat ini SUV sedang menjadi trend dunia dan banyak disukai karena fungsinya yang serba guna, andal di berbagai kondisi jalan dan senyaman sedan. Tidak heran kalau saat ini hampir setiap pabrikan mobil memproduksinya dan seiring perkembangan teknologi otomotif, SUV terus berkembang menyesuaikan diri dengan zaman. Sedangkan 7 kelebihan dari SUV terios, di antaranya :
1. The only 7 seater SUV
2. Easy access entertaintment (audio steering switch)
3. Tough style (macho styling)
4. City cruiser (high ground clesrance)
5. Easy handling (electric power steering)
6. Optimal comfort (comfort suspension)
7. Excellent strength (reliable engine 1.5 DOHC VVT-i)




TAF (sumber)
Performa Daihatsu-Terios dilengkapi dengan teknologi TAF, VVT-i, Mac Pherson Struts. dan Ventilator Disck Brake. TAF (Total Advance Function) Body adalah tekhnologi keselamatan pasif pada konstruksi body mobil yang akan menyerap efek benturan pada saat terjadi tabrakan, sehingga aman bagi pengemudi dan penumpang di dalamnya.


VVT-i (sumber)


VVT-i (Variable Valve Timing Intelegent) adalah teknologi yang mengatur sudut camshaft secara dinamis agar dapat menyesuaikan dengan putaran mesin, sehingga meningkatkan tenaga mesin, hemat bahan bakar dan ramah lingkungan.

 

Mac Pherson Struts (sumber)



Mac Pherson Struts adalah sebuah sistem suspensi yang menggabungkan koil spring dan shock absorber dan diikat dengan knuckle. Memiliki kelebihan jumlah yang lebih sedikit dengan performa yang sebanding dengan suspensi yang lain.
 

Ventilator Disc Brake (sumber)



Ventilator Disc Brake adalah disc sebagai bagian dari sistem pengereman mobil dengan bentuk seperti dua piringan cakram digabung menjadi satu dan ditengahnya terdapat celah untuk mengalirkan udara panas dengan kelebihan mampu melepas energi panas lebih baik ketika terjadi pengereman agar performa rem tetap terjaga.







 #Daihatsu-Terios 7 seater TX-AT

Interior Terios TX-AT (sumber)
Bagian interior yaitu pada meter cluster dibingkai garis berlapis krom dan piranti sistem kontrol audio diletakkan pada lingkar kemudi yang memudahkan untuk pengoperasian head unit. Tingkat kebisingan di bagian kabin terios facelift semakin diperkecil menjadi 71,8 desibel (db), sehingga saat mendengarkan musik atau mengobrol dengan penumpang lain dalam kabin tidak perlu terganggu dengan kondisi luar. Kapasitas ruang kabin semakin besar karena sebagian kursi di bagian kedua dan ketiga bisa dilipat sempurna. Penambahan isolator packing berupa busa di antara radiator, mesin, dengan kompressor sehingga kerja kompressor AC semakin ringan yang berdampak pada efisiensi bahan bakar.


Eksterior Terios TX-AT (sumber)
Eksterior berupa pilar C yang membentuk siku dan agak tegak dengan pilar D-nya, serta tampilan yang lebih modern dengan desain baru pada penggunaan front grille, bumper, dan lekukan di kap mesin. Adanya roof rail, body side moulding serta foot step yang menambah kesan gagah pada unsur tampilan eksterior. Tampilan lampu rem pada bagian buritan berbentuk kotak dan seperangkan velg baru berdesain lima palang dengan motif garis tegas serta penonjolan garis sudut velg yang stylish. Pengendalian dan kenyamanan berkendara di jalan rusak juga semakin nyaman tanpa ada gejala bodi limbung dengan disempurnakannya bagian coil spring dan shock absorber. 

#Daihatsu-Terios 7 seater TX-MT

Eksterior Terios TX (sumber)
Penyegaran pada eksterior depan nampak pada desin bumper dan grille yang baru, dan dibelakang pada desain bumper dan lensa kombinasi lampu belakang yang bersih. Pembaharuan item eksterior lain pada facelift Terios TX yaitu desain grille baru, kombinasi lensa lampu belakang yang bening dan desain velg alloy 215/65R16 baru.

Interior Terios TX (sumber)

Pada bagian fascia depan terdapat dua hal yang di-endorse yaitu posisi CD audio yang terintegrasi dengan center cluster yang memberikan kesn keserasian dan desain panel instrumen yang sporti serta mudah di baca. Sedangkan dibagian tengah atap depan terdapat sunglass holder untuk menyimpan kaca mata.

AC double blower (sumber)

Ruang penumpang baris kedua telah dilengkapi fasilitas AC double blower sehingga seluruh penumpang bisa mendapatkan suplai pendingin udara secara merata. Kursi penumpang baris kedua juga dapat diatur maju mundur secara terpisah sesuai kebutuhan. Kursi juga dapat dilipat dengan mudah dengan hanya menarik satu tuas saja. Kursi baris ketiga pun jika tidak sedang digunakan dapat dilipat terpisah 50:50 untuk memaksimalkan ruang kargo.


Demikianlah sobat blogger sekalian, ringkasan cerita dari Petualangan Terios 7-Wonders beserta beberapa review mengenai kehebatan Daihatsu-Terios 7-seater. Semoga dapat menambah pengetahuan dan bermanfaat bagi sobat sekalian serta membuat kita semakin mengenal, bersyukur dan semakin bangga atas keindahan dan kekayaan Alam Negeri kita, utamanya daerah-daerah di Sumatera yang terkenal dengan Kopi Luwak-nya.



*tulisan ini diikutsertakan dalam Kontes Blog Mobil Sahabat Petualang #terios7wonders
ditulis oleh Istiqomah Primasari


sumber:

http://www.daihatsu.co.id/terios7wonders/about
http://musik-keras.blogspot.com/2009/01/suv-masa-kini-jantan.html
http://www.avanzaxenia.net
http://id.carmall.com/id/otomotif/info_artikel/test-drive-daihatsu-terios-adventure-tx-at-2011-1141/
http://daihatsu.co.id/products/highlight/terios/
http://id.wikipedia.org/wiki/Daihatsu_Terios
http://id.carmall.com/id/otomotif/info_artikel/4/

You Might Also Like

3 komentar

  1. Pendaftaran #terios7wonders
    Data pendaftaran anda sudah tercatat, Terima kasih sudah mengikuti Kontes Blog "Mobil Sahabat Petualang" Pendaftaran anda sudah tercatat di database kami. Untuk informasi mengenai pendaftaran, dapat mengirimkan email ke adminblog@detik.com dengan subject "Tanya Pendaftaran Mobil Sahabat Petualang" Regards http://blogdetik.com

    Alhamdulillah. Semoga dapat hadiah.aamiin..

    BalasHapus